• Membuat Struktur Organisasi Sekolah

    Struktur organisasi sangat penting dalam setiap organisasi termasuk sekolah. Struktur organisasi yang baik dapat membantu sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan seperti yang tercantum dalam visi dan misi-nya. Dari struktur organisasi tersebut nantinya dapat disusun job description masing-masing bidang. Menurut Haryatmoko 2020, struktur organisasi harus memungkinkan untuk membangun kerja sama, menjawab tuntutan keterampilan baru, dan mengubah dari struktur hierarkis ke jaringan yang mudah berubah bentuk dengan fasilitas serba teknologi digital dan IoT. Menurutnya struktur organisasi harus lebih fleksibel mengingat perubahan jaman dan teknologi yang sangat cepat, model struktur organisasi hierarkis dipandang sudah tidak relevan lagi. Struktur hierarkis merupakan struktur yang berjenjang dari jabatan paling bawah hingga paling tinggi, terdapat tingkatan jabatan yang mesti dilalui agar sampai pada puncak pengambil keputusan tertinggi. Terkadang hal ini memerlukan waktu yang lama, maka dengan model jaringan maka, pengendali puncak dapat langsung memantau ujung paling bawah seperti halnya ujung pada jaring ikan. Struktur hierarkis banyak digunakan oleh organisasi saat ini, namun terdapat tuntutan agar lebih fleksibel dalam bergerak seperti halnya jaring ikan dan tidak kaku lagi.

    Biasanya setelah rencana strategis (renstra) disahkan maka diperlukan struktur organisasi untuk mengerjakan renstra tersebut. Kebanyakan organisasi telah memiliki struktur, maka langkah yang tepat adalah melihat kembali struktur organisasi yang ada. Apakah struktur organisasi yang ada mampu menjawab renstra yang telah disusun atau belum, apabila belum maka perlu dirumuskan struktur organisasi yang baru. Struktur organisasi yang baik dapat mengakomodasi bidang-bidang yang terdapat dalam renstra. Berikut contoh struktur organisasi sesuai bidang pada tulisan sebelumnya yang berjudul “Proses Membuat Rencana Strategis (Renstra) Dan Rencana Kerja Tahunan Sekolah”. Dalam tulisan tersebut terdapat delapan bidang dalam renstra yaitu bidang Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses/Pembelajaran, Standar Penilaian Pembelajaran, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Pengelolaan Manajemen, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Sumber dan Penggunaan Dana.

    Berikut contoh struktur organisasi sekolah swasta yang cocok untuk menjawab kebutuhan bidang-bidang yang terdapat dalam renstra di atas:

    Person In Charge (PIC) delapan bidang menurut renstra dapat dibagai sebagai berikut:

    1. Bidang Standar Kompetensi Lulusan oleh WK III Kesiswaan.
    2. Bidang Standar Isi, Standar Proses/Pembelajaran, Standar Penilaian Pembelajaran oleh WK I Kurikulum
    3. Bidang Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan oleh Kabag Sumber Daya Manusia (SDM).
    4. Bidang Standar Pengelolaan Manajemen oleh Kabag Penjaminan Mutu.
    5. Bidang Standar Sarana dan Prasarana oleh Kabag Sarana Dan Prasarana.
    6. Standar Sumber dan Penggunaan Dana oleh Kabag Keuangan, Akuntansi dan Perpajakan.

    Setelah struktur organisasi jadi maka langkah selanjutnya adalah membuat job description dari masing-masing bidang yang terdapat dalam struktur. Penyusunan Job description diawali dengan melakukan job analysis terlebih dahulu. Untuk penyusunan job analysis dan pembuatan job description kami jelaskan pada tulisan-tulisan berikutnya.

  • Proses Operasional Sekolah Menengah Atas

    Tujuan dari keberadaan sekolah adalah untuk mencapai visi-misi para pendiri (sekolah swasta), tiap sekolah mempunyai visi-misi yang berbeda. Sekolah adalah organisasi nir laba berbeda dengan perusahaan yang tujuan utamanya mencari keuntungan sebesar-besarnya. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab” Sekolah swasta walaupun memiliki visi, misi dan tujuan sendiri namun tidak dapat terlepas dari tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam undang-undang.

    Untuk mencapai tujuan sekolah diperlukan manajemen yang baik, penting bagi para pengambil keputusan untuk memahami manajemen operasional sekolah. Berikut adalah diagram proses operasional sekolah:

    Proses Operasional Sekolah

    Proses operasional sekolah dimulai dari input. Proses input merupakan sebuah proses untuk mendapatkan siswa baru yang sesuai dengan kriteria yang kita inginkan, proses ini meliputi:

    Proses operasional sekolah selanjutnya adalah proses pembelajaran. Proses pembelajaran merupakan inti dari proses operasional sekolah. Proses pembelajaran yang dimaksud adalah Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) baik di kelas maupun luar kelas. Proses KBM membutuhkan instrumen antara lain:

    1. Sumber Daya Manusia (SDM): SDM dalam hal ini tenaga pendidik (guru) dan tenaga kependidikan (karyawan). Untuk mencapai visi, misi dan tujuan dibutuhkan SDM yang sejalan dengan visi-misi (profil guru dan karyawan), maka perlu dilakukan rekrutmen pegawai yang benar dan desain pengembangan SDM yang baik .
    2. Kurikulum: menurut Harold B. Alberty, 1965 kurikulum merupakan semua kegiatan yang diberikan kepada peserta didik atas tanggung jawab sekolah. Kurikulum ini tak hanya terbatas pada segala hal di dalam kelas saja, melainkan juga semua kegiatan di luar sekolah. Sehingga kurikulum bisa dikatakan sebagai alat untuk melakukan proses KBM. Sekolah swasta biasanya mempunyai kurikulum yang khas dengan memasukkan visi-misi dan nilai-nilai sekolah ke dalam kurikulum nasional yang sudah ditetapkan pemerintah.
    3. Sarana dan prasarana (sarpras): sarana pendidikan adalah harta benda milik Yayasan yang meliputi alat pembelajaran, alat peraga, media pengajaran atau pendidikan, perabotan dan peralatan yang diperlukan sebagai kelengkapan dalam menjalankan fungsinya serta untuk meningkatkan mutu layanan, sedangkan prasarana adalah harta benda milik Yayasan yang meliputi lahan dan bangunan gedung yang dapat digunakan untuk penyelenggaraan pendidikan. Agar proses pembelajaran berjalan dengan baik maka ketersediaan sarpras yang baik dan lengkap sangat diperlukan.
    4. Keuangan: sumber pemasukan sekolah berasal dari sumbangan orang tua siswa. Sumbangan berupa Dana Pengembangan Pendidikan (DPP) dan Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SPP). DPP digunakan untuk pengembangan fasilitas pendidikan sedangkan SPP digunakan untuk operasional sekolah. Pengelolaan keuangan yang transparan dan efisien dapat menumbuhkan kepercayaan dari masyarakat. Surplus operasional dapat digunakan untuk pengembangan fasilitas, meningkatkan kesejahteraan guru/karyawan dan lainnya.
    5. Manajemen: manajemen yang baik sangat dibutuhkan dalam mengelola sekolah. Pengelolaan operasional sekolah dari proses input sampai dengan output menjadi satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan. Peran manajemen di sini dibutuhkan dalam mengatur operasional sekolah mulai dari perencanaan, pengorganisasian, aktivitas, pengawasan dan kontroling.
    6. Proses pembelajaran juga dipengaruhi faktor lingkungan, faktor lingkungan luar dapat berasal dari pemerintah, masyarakat, keluarga dan lingkungan sekolah itu sendiri. Sebagai contoh peristiwa pandemi covid-19 mempengaruhi proses KBM, ketersediaan SDM dan fasilitas pendukung perlu penyesuaian dengan keadaan tersebut.

    Proses operasional yang terakhir adalah output yaitu profil alumni. Profil alumni yang diharapkan merupakan tujuan akhir dari proses operasional sekolah. Tujuan organisasi nir-laba adalah tercapainya visi-misi sekolah yang diwujudkan dalam profil siswa/alumni. Tidak mudah untuk mengukur keberhasilan/tercapainya tujuan tersebut, perlu dilakukan kajian dan riset yang mendalam dan diperlukan instrumen penelitian yang tepat mengenai “produk” yang dihasilkan karena ketika siswa sudah lulus dan melanjutkan proses pendidikan yang lebih tinggi dan selanjutnya bekerja banyak faktor eksternal yang mempengaruhi pribadi-pribadi tersebut.

    Demikian pemaparan proses operasional sekolah secara singkat. Mengenai penjabaran lebih rinci dan detail mengenai sub-sub bagian dalam proses tersebut akan saya tuliskan dalam tulisan berikutinya, terimakasih.

  • Contoh Analisis SWOT Sekolah X

    SWOT adalah akronim untuk Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats dari suatu organisasi. Analisis SWOT mengharuskan para manajer strategis untuk menemukan kesesuaian strategis antara kekuatan dan kelemahan internal (Internal Factor Evaluation) serta peluang dan ancaman eksternal (External Factor Evaluation). Analisis ini juga harus mengidentifikasi kompetensi langka organisasi, yaitu keahlian dan sumber-sumber tertentu yang dimiliki oleh sebuah organisasi. Kompetensi langka organisasi secara tepat akan mencerminkan keunggulan kompetitif yang dimiliki. Berikut ini hasil analisis SWOT pada SMA X.

    1. Kekuatan

    NoKekuatan
    1Pendaftar yang diterima dalam 5 tahun terakhir relatif stabil dengan perbandingan diatas 2:1
    2Penjaminan mutu
    3Sistem keuangan
    4Kegiatan ekstrakurikuler siswa
    5Kesejahteraan pegawai
    Tabel 1 Dimensi Kekuatan

    2. Kelemahan

    NoKelemahan
    1Pelaporan pelaksanaan kegiatan
    2Inventarisasi aset
    3Pengembangan SDM
    4Strategi pemasaran
    5Sistem informasi manajemen
    Tabel 2 Dimensi Kelemahan

    3. Peluang

    NoPeluang
    1Kurikulum “merdeka belajar” yang dicanangkan oleh pemerintah
    2Paguyuban alumni yang kuat
    3Mempunyai asosiasi sekolah yang anggotanya di seluruh Indonesia
    4Lokasi sekolah yang strategis
    5Berkembangnya teknologi telekonferensi
    Tabel 3 Dimensi Peluang

    4. Ancaman

    NoAncaman
    1Semakin kecilnya toleransi umat beragama di masyarakat
    2Dibukanya sekolah baru setingkat SMA dengan model pembelajaran yang sama
    3Munculnya sekolah-sekolah berasrama
    4Perubahan lingkungan sosial di sekitar SMA X
    5Kebijakan zonasi oleh pemerintah untuk sekolah negeri
    Tabel 4 Dimensi Ancaman

    A. Tahapan Analisis SWOT

    1. Tatacara Pembobotan

    Bobot menunjukkan tingkat kepentingan relatif suatu faktor terhadap keberhasilan usaha dalam suatu perusahaan atau organisasi. Bobot tiap faktor diperoleh dengan menentukan nilai tiap faktor terhadap total nilai faktor. Bobot yang diberikan berada pada kisaran 0,000 (tidak penting) hingga 1,000 (paling penting). Faktor-faktor yang memiliki pengaruh besar pada organisasi diberikan bobot yang tinggi. Jumlah seluruh bobot yang diberikan harus sama dengan 1,000. Bobot setiap variabel diperoleh dengan membagi total nilai setiap variabel terhadap total nilai keseluruhan variabel. Rumusnya sebagai berikut. ai = Xi ∑Xi Penentuan bobot pada setiap variabel digunakan skala 1,2,3. Penilaian untuk setiap skala dapat dijelaskan sebagai berikut: 1 = jika indikator horizontal kurang penting daripada indikator vertikal 2 = jika indikator horizontal sama penting dengan indikator vertikal 3 = jika indikator horizontal lebih penting daripada indikator vertikal Table 1 format tabel dalam pemberian bobot Faktor Internal/Esternal A B C … Total Bobot A B C … Total keseluruhan variabel 1,000 Keterangan : ai = Bobot variabel i Xi = Total variabel i i = ke A,B,C,…

    Contoh menghitung pembobotan dengan key person: Kepala Sekolah

    Keterangan Faktor Internal

    2. Tahap Pembobotan

    NoFaktor InternalKepsekKa. KantorKa. Tata UsahaKetua PengurusJml
    1Pendaftar yang diterima dalam 5 tahun terakhir relatif stabil dengan perbandingan diatas 2:10.0940.0610.0870.1170.090
    2Penjaminan mutu0.1110.1120.1090.1000.108
    3Sistem keuangan0.0890.0730.1030.0890.088
    4Kegiatan ekstrakurikuler siswa0.1060.0840.0870.0940.093
    5Kesejahteraan pegawai0.1000.0840.0820.0830.087
    6Pelaporan pelaksanaan kegiatan0.1170.1280.1200.1280.123
    7Inventarisasi aset0.1110.1280.1140.1170.118
    8Pengembangan SDM0.0830.0730.0820.0720.077
    9Strategi pemasaran0.0940.1400.1200.1000.113
    10Sistem informasi manajemen0.0940.1170.0980.1000.102
     Jumlah    1,000
    Tabel 5 Tahap Pembobotan Faktor Internal
    NoFaktor EksternalKepsekKa. kantorKa. Tata UsahaKetua PengurusJml
    1Kurikulum “merdeka belajar” yang dicanangkan oleh pemerintah0.0660.1060.0780.0740.081
    2Paguyuban alumni yang kuat0.0660.1340.0780.0800.090
    3Mempunyai asosiasi sekolah yang anggotanya di seluruh Indonesia0.0830.1280.0780.0800.092
    4Lokasi sekolah yang strategis0.1220.0730.1230.1120.107
    5Berkembangnya teknologi telekonferensi0.1100.1060.1010.1060.106
    6Semakin kecilnya toleransi umat beragama di masyarakat0.0880.0840.0840.0800.084
    7Dibukanya sekolah baru setingkat SMA dengan model pembelajaran yang sama0.1050.1280.1230.1170.118
    8Munculnya sekolah-sekolah berasrama0.1160.0560.1280.1120.103
    9Perubahan lingkungan sosial di sekitar SMA X0.1100.0780.1010.1170.102
    10Kebijakan zonasi oleh pemerintah untuk sekolah negeri0.1330.1060.1060.1220.117
     Jumlah    1,000
    Tabel 6 Tahap Pembobotan Faktor Eksternal

    3. Tahap Pemeringkatan

    a. Kekuatan

    NoKekuatanKepsekKep YYSKA. Tata UsahaKetua PengurusJml
    1Pendaftar yang diterima dalam 5 tahun terakhir relatif stabil dengan perbandingan diatas 2:144433.75
    2Penjaminan mutu43343.50
    3Sistem keuangan44343.75
    4Kegiatan ekstrakurikuler siswa43433.50
    5Kesejahteraan pegawai33343.25
    Tabel 7 Tahap Pemeringkatan (Kekuatan)

    b. Kelemahan

    NoKelemahanKepsekKa. YYSKa. Tata UsahaKetua PengurusJml
    1Pelaporan pelaksanaan kegiatan32322.50
    2Inventarisasi aset22222.00
    3Pengembangan SDM11111.00
    4Strategi pemasaran22322.25
    5Sistem informasi manajemen42122.25
    Tabel 8 Tahap Pemeringkatan (Kelemahan)

    c. Peluang

    NoPeluangKepsekKa. YYSKa. Tata UsahaKetua PengurusJml
    1Kurikulum “merdeka belajar” yang dicanangkan oleh pemerintah43433.50
    2Paguyuban alumni yang kuat43443.75
    3Mempunyai asosiasi sekolah yang anggotanya di seluruh Indonesia43333.25
    4Lokasi sekolah yang strategis24132.50
    5Berkembangnya teknologi telekonferensi34333.25
    Tabel 9 Tahap Pemeringkatan (Peluang)

    d. Ancaman

    NoAncamanKepsekKep YYSKA. Tata UsahaKetua PengurusJml
    1Semakin kecilnya toleransi umat beragama di masyarakat22232.25
    2Dibukanya sekolah baru setingkat SMA dengan model pembelajaran yang sama23422.75
    3Munculnya sekolah-sekolah berasrama32322.50
    4Perubahan lingkungan sosial di sekitar SMA X31222.00
    5Kebijakan zonasi oleh pemerintah untuk sekolah negeri42333.00
    Tabel 10 Tahap Pemeringkatan (Ancaman)

    4. Hasil Matrik Internal Factor Evaluation (IFE)

    NoKekuatanBobotPeringkatNilai
    1Pendaftar yang diterima dalam 5 tahun terakhir relatif stabil dengan perbandingan diatas 2:10.093.750.337
    2Penjaminan mutu0.113.500.378
    3Sistem keuangan0.093.750.332
    4Kegiatan ekstrakurikuler siswa0.093.500.324
    5Kesejahteraan pegawai0.093.250.283
     Total nilai Kekuatan  1.654
    No.KelemahanBobotPeringkatNilai
    6Pelaporan pelaksanaan kegiatan0.122.500.308
    7Inventarisasi aset0.122.000.235
    8Pengembangan SDM0.081.000.077
    9Strategi pemasaran0.112.250.255
    10Sistem informasi manajemen0.102.250.230
     Total Nilai kelemahan  1.106
     Total Nilai Kekuatan dan Kelemahan1.00 2.760
    Tabel 11 Hasil Matrik Internal Factor Evaluation (IFE)

    5. Hasil Matrik External Factor Evaluation

    NoPeluangBobotPeringkatNilai
    1Kurikulum “merdeka belajar” yang dicanangkan oleh pemerintah0.113.500.372
    2Paguyuban alumni yang kuat0.133.750.503
    3Mempunyai asosiasi sekolah yang anggotanya di seluruh Indonesia0.133.250.418
    4Lokasi sekolah yang strategis0.072.500.182
    5Berkembangnya teknologi telekonferensi0.113.250.345
     Total Nilai Peluang  1.818
    NoAncamanBobotPeringkatNilai
    1Semakin kecilnya toleransi umat beragama di masyarakat0.082.250.189
    2Dibukanya sekolah baru setingkat SMA dengan model pembelajaran yang sama0.132.750.353
    3Munculnya sekolah-sekolah berasrama0.062.500.140
    4Perubahan lingkungan sosial di sekitar SMA X0.082.000.156
    5Semakin kecilnya toleransi umat beragama di masyarakat0.113.000.318
     Total Nilai Ancaman  1.156
     Total Nilai Peluang dan Ancaman1.00 2.975
    Tabel 12 Hasil Matrik Ecternal Factor Evaluation (EFE)

    6. Tahap Pencocokan

    a. Analisis Matrik IE

    Matrik IE dilakukan dengan menyandingkan total nilai kekuatan dan kelemahan serta total nilai peluang dan ancaman ke dalam Matrik IE.

    Tabel 13 Analisis Matrik IE

    Analisis perhitungan total nilai kekuatan dan kelemahan yaitu 2,760 serta total nilai peluang dan ancaman yaitu 2, 975 maka Matrik IE ada pada sel V. Sel V berada di area Hold and Maintain (pertahankan dan pelihara)

    b. Kuadran Analisis SWOT

    Penentuan kuadran analisis SWOT dilakukan dengan menentukan nilai faktor internal yaitu selisih kekuatan dan kelemahan serta nilai faktor eksternal yaitu selisih peluang dan ancaman.

    Nilai Faktor internal           = 1,654 – 1,106

                                               = 0,548

    Nilai faktor eksternal          = 1, 818 – 1, 156

                                               = 0.662 Setelah menentukan nilai faktor internal dan faktor eksternal maka dapat dilihat bahwa analisis SWOT berada di kuadran I yaitu Exspansion.

    Tabel 14 Kuadran Anilisis SWOT

    c. Matrik SWOT

    Matriks SWOT diperoleh dengan memasangkan faktor-faktor eksternal dengan faktor-faktor internal. Dalam matriks SWOT diperlihatkan kesesuaian antara kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman seperti terlihat pada tabel berikut.

    Tabel 15 Matrik SWOT

    Berdasarkan hasil Kuadran Analisis SWOT SMA X menunjukkan posisinya berada pada kuadran I yaitu expansion mendukung strategi offensive. Selanjutnya perlu dirumuskan alternatif-alternatif strategi menggunakan matrik SWOT untuk mendukung keputusan dari hasil analisis kuadran SWOT. Perumusan strategi-strategi melalui matriks SWOT adalah sebagai berikut:

    Faktor Internal              



    Faktor Eksternal
    STRENGTH (S)
    – Pendaftar yang diterima dalam 5 tahun terakhir relatif stabil dengan perbandingan diatas 2:1
    – Penjaminan mutu
    – Sistem keuangan
    – Kegiatan ekstrakurikuler  siswa
    – Kesejahteraan pegawai
    WEAKNESS (W)
    – Pelaporan pelaksanaan kegiatan – Inventarisasi aset
    – Pengembangan SDM
    – Strategi pemasaran
    – Sistem informasi manajemen
    OPPORTUNITIES (O) Kurikulum “merdeka belajar” yang dicanangkan oleh pemerintahPaguyuban alumni yang kuatMempunyai asosiasi sekolah yang anggotanya di seluruh IndonesiaLokasi sekolah yang strategisBerkembangnya teknologi telekonferensi– Meningkatkan jejaring dengan sekolah lain baik di dalam/luar negeri dan alumni dalam rangka peningkatan kompetensi siswa dengan menggunakan teknologi informasi (S4, O5, O3, O2)
    – Merancang Penerimaan Siswa Baru (PSB) dengan 100% web based dengan membangun infrastruktur perangkat keras dan perangkat lunak (S1, S3, O5)
    – Meningkatkan infrastruktur jaringan teknologi informasi untuk mempersiapkan ruang kelas yang mendukung teknologi pendidikan 4.0 serta peningkatan kualitas layanan pendidikan kepada siswa (S1, S3, S4, O1, O5)
    – Meningkatkan jejaring dengan alumni, Perguruan tinggi dalam dan luar negeri untuk pengembangan SDM melalui program seminar dan pelatihan secara daring (W3, O1, O2, O3. O5)
    – Mempercepat proses integrasi sistem informasi manajemen tata kelola lembaga dengan menggunakan dukungan dari Alumni maupun Asosiasi (W5, O3)
    – Memanfaatkan jaringan alumni dalam pendaftaran siswa baru di seluruh Indonesia (W4; O2)
    THREATS (T) Semakin kecilnya toleransi umat beragama di masyarakatDibukanya sekolah baru setingkat SMA dengan model pembelajaran yang samaMunculnya sekolah-sekolah berasrama Perubahan lingkungan sosial di sekitar SMA XKebijakan zonasi oleh pemerintah untuk sekolah negeriMembangun asrama untuk menampung siswa dari luar kota (S1, S2, S3, T3, T4)– Membuat kurikulum pembinaan pegawai secara berjenjang (5 tahunan) (W1, W3, T2, T4)
    – Membuat SOP Aset yang terintegrasi dengan sistem informasi manajemen (W2, W5, T2)
    Tabel 16 Strategi Matrik SWOT

    B. Tahapan Keputusan

    1. Alternatif Strategi berdasarkan Hasil Matrik SWOT

    SO– Meningkatkan jejaring dengan sekolah lain di dalam/luar negeri dan alumni dalam rangka peningkatan kompetensi siswa dengan menggunakan teknologi informasi.
    – Merancang Penerimaan Siswa Baru (PSB) dengan 100% web based dengan membangun infrastruktur perangkat keras dan perangkat lunak.
    – Meningkatkan infrastruktur jaringan teknologi informasi untuk mempersiapkan ruang kelas yang mendukung teknologi pendidikan 4.0 serta peningkatan kualitas layanan pendidikan kepada siswa.
    WO– Meningkatkan jejaring dengan alumni, Perguruan tinggi dalam dan luar negeri untuk pengembangan SDM melalui program seminar dan pelatihan secara daring.
    – Mempercepat proses integrasi sistem informasi manajemen tata kelola lembaga dengan menggunakan dukungan dari Alumni maupun Asosiasi.
    – Memanfaatkan jaringan alumni dalam pendaftaran siswa baru di seluruh Indonesia.
    STMembangun asrama untuk menampung siswa dari luar kota.
    WT– Membuat kurikulum pembinaan pegawai secara berjenjang (5 tahunan).
    – Membuat SOP Aset yang terintegrasi dengan sistem informasi manajemen.
    Tabel 17 Tahapan Keputusan

    2. Tahap Keputusan berdasarkan Matrik IE

    Dari perhitungan Matrik IFE diperoleh 2,760 dan EFE 2,925 maka sekolah X berada di kuadran Hold and Maintain (pertahankan dan pelihara) dilakukan untuk sel III, V, dan  VII. Strategi umum yang dipakai adalah penetrasi pasar dan pengembangan  produk.

    Hasil analisa Matrik IE, Kuadran SWOT dan matrik SWOT, maka sekolah X:

    a. Masuk dalam sel V wilayah 1 area Hold and Maintain (pertahankan dan pelihara). Strategi yang cocok adalah strategi intensive:

    1. Penetrasi pasar : a) meningkatkan infrastruktur jaringan teknologi informasi untuk mempersiapkan ruang kelas yang mendukung teknologi pendidikan 4.0 serta peningkatan kualitas layanan pendidikan kepada siswa, b) merancang Penerimaan Siswa Baru (PSB) dengan 100% web based dengan membangun infrastruktur perangkat keras dan perangkat lunak.
    2. Pengembangan produk: a) meningkatkan jejaring dengan alumni, Perguruan tinggi dalam dan luar negeri untuk pengembangan SDM melalui program seminar dan pelatihan secara daring, b) membuat kurikulum pembinaan pegawai secara berjenjang (5 tahunan). c) memanfaatkan jaringan alumni dalam pendaftaran siswa baru di seluruh Indonesia.

    b. Tahap Keputusan berdasarkan Kuadran Analisis SWOT.

    Kuadran Analisis SWOT SMA X menunjukkan posisinya berada pada kuadran I Expansion sehingga diperlukan pemilihan strategi yang berupa penggunaan setiap kekuatan untuk melakukan ekspansi. Posisi tersebut mengarah pada strategi SO yaitu :

    1. Meningkatkan jejaring dengan sekolah di dalam/luar negeri dan alumni dalam rangka peningkatan kompetensi siswa dengan menggunakan teknologi informasi
    2. Merancang Penerimaan Siswa Baru (PSB) dengan 100% web based dengan membangun infrastruktur perangkat keras dan perangkat lunak.
    3. Meningkatkan infrastruktur jaringan teknologi informasi untuk mempersiapkan ruang kelas yang mendukung teknologi pendidikan 4.0 serta peningkatan kualitas layanan pendidikan kepada siswa.

    Demikian contoh penyusunan SWOT untuk sekolah, semoga bermanfaat.

  • Melaksanakan Rencana Kerja Tahunan Sekolah, Memantau dan Melakukan Evaluasi

    1. Melaksanakan Rencana Strategis

    Menurut Allison (2005), langkah selanjutnya setelah penulisan rencana strategis adalah melaksanakan rencana strategis (renstra). Untuk menghubungkan antara pemikiran strategis yang tercantum dalam rencana strategis dengan pekerjaan sehari-hari maka dibutuhkan rencana operasinal dan anggaran/Rencana Kerja Tahunan (RKT). RKT dibuat setiap tahun berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan program tahun sebelumnya. RKT sebaiknya disusun berdasarkan riset internal dan eksternal yang mendalam. Riset dapat melibatkan guru dan karyawan yang kompeten dibidangnya, dengan riset diharapkan program yang muncul lebih mendalam dan dapat membantu menyelesaikan tantangan yang dihadapi sekolah.

    Setelah program renstra selesai, sebelum menunjuk para PIC sebaiknya struktur organisasi harus ada terlebih dahulu. Struktur organisasi dibuat sebagai alat untuk melaksanakan program renstra yang dibuat, dengan demikian kualifikasi PIC yang dibutuhkan akan terlihat. Setelah dibuat struktur organisasi langkah selanjutnya adalah membuat job description, berdasarkan job description tersebut maka dapat ditentukan kualifikasi para PIC yang dibutuhkan. Agar program yang telah dibuat dapat dilaksanakan dengan baik maka harus didukung oleh PIC yang mempunyai kompetensi dan komitmen yang tinggi.

    2. Memantau dan Mengevaluasi

    Tahap terakhir dalam penyusunan perencanaan strategis menurut Allison (2005) adalah memantau dan mengevaluasi, tahap ini penting dilakukan untuk memantau pelaksanaan rencana strategis yang telah dibuat. Monitoring dan evaluasi (monev) diperlukan agar pelaksanaan program dapat berjalan dan tidak keluar dari rel yang telah ditentukan, sehingga ketika terjadi hambatan dan penyimpangan dapat segera diatasi dan dikembalikan kepada jalurnya. Idealnya setiap tahun dilakukan tiga kali monev, untuk periode tahun ajaran Juli-Juni sebaiknya monev pertama dilakukan di awal semester untuk memonitor kendala-kendala yang mungkin muncul sebagai penghambat pelaksanaan program-program yang telah disusun, monev kedua di akhir semester satu dilakukan pada bulan Januari-Februari untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan program selama satu semester dan monev ketiga atau monev akhir yang dilakukan pada bulan April. Hasil monev akhir ini yang akan dijadikan dasar untuk penyusunan program tahun berikutnya. Tim monev dapat dibentuk dari guru atau karyawan yang mempunyai pengalaman dan pengetahuan dalam manajemen strategis. Selain melakukan monev yang tidak boleh dilupakan adalah para pimpinan wajib melakukan kontroling terhadap pelaksanaan program yang dilakukan oleh para PIC. Pempinan dapat mengambil keputusan dengan cepat berdasarkan hasil monev apabila terdapat hambatan dan juga antisipasi terhadap perubahan lingkungan.

    3. Contoh Monitoring dan Evaluasi (Monev)

    5.Bidang Tenaga Pendidik dan Kependidikan1. Menyusun dokomen pengembangan tenaga pendidik dan kependidikan.
    2. Mengadakan pelatihan penulisan karya ilmiah.
    Program tahun pertama Bidang Tenaga Pendidik dan Kependidikan

    Contoh Rencana Kerja Tahunan (RKT) Bidang Tenaga Pendidikan dan Kependidikan (SDM) yang diambil dari tulisan sebelumnya: “Proses Membuat Rencana Strategis (Renstra) Dan Rencana Kerja Tahunan Sekolah”. Memasuki awal tahun ajaran sekitar bulan Juli/Agustus perlu dilakukan monev awal. Monev awal diperlukan untuk memonitor kendala-kendala yang mungkin muncul sebagai penghambat pelaksanaan program-program yang telah disusun. Dari contoh RKT di atas misalnya dalam program “menyusun dokumen pengembangan tenaga pendidik dan kependidikan”, program ini PIC-nya adalah Bagian SDM. Pada program tersebut ditemukan adanya kemungkinan hambatan yang muncul, misalnya seperti kuranganya SDM yang mempunyai kompetensi dalam mengerjakan program tersebut. Tim monev dapat memberi solusi misalnya mencari tenaga ahli untuk menjadi supervisor. Sedangkan monev tengah tahun/akhir semester pertama dapat dilakukan sekitar bulan Januari. Masih dengan contoh di atas, misalnya program masih belum berjalan sesuai rencana walaupun sudah melibatkan tenaga ahli, tim monev dapat meneliti apa penyebabnya. Misalnya ditemukan penyebabnya adalah banyaknya beban kerja para PIC, tim monev dapat mengusulkan menambah tim atau mengusulkan kepada pimpinan untuk mengurangi program lain yang kurang mendesak. Monev akhir dilakukan sekitar bulan April atau dua bulan sebelum akhir tahun ajaran. Monev akhir dilakukan dengan Focus Group Discussion (FGD), FGD dapat mengundang pihak lain di luar PIC, misalnya pimpinan sekolah, pengurus Yayasan atau pegawai lainnya. Hasil monev akhir akan dijadikan rekomendasi dalam penyusunan program tahun berikutnya. Rekomendasi yang diberikan tim monev apabila program belum selesai berupa program diulang tahun ajaran depan dengan catatan saran misalnya pengurangan beban para PIC pada tugas lainnya. Demikian ulasan singkat mengenai bagaimana melaksanakan program yang telah dibuat dan evaluasinya, semoga bermanfaat.

  • Proses Membuat Rencana Strategis (Renstra) Dan Rencana Kerja Tahunan Sekolah

    Setelah sekolah mempunyai visi dan misi, langkah selanjutnya adalah nenetapkan tujuan. Tujuan yang ingin dicapai dalam periode tertentu misalnya lima tahun ke depan. Setelah tujuan ditetapkan, kita dapat menyusun rencana strategis (renstra) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT). Perencanaan strategis adalah sebuah alat manajemen, dan sama dengan setiap alat manajemen, alat itu hanya digunakan untuk satu maksud saja, menolong organisasi memfokuskan Visi dan prioritasnya sebagai jawaban terhadap lingkungan yang berubah dan untuk memastikan agar anggota-anggota organisasi bekerja kearah tujuan yang sama (Allison, 2005). Langkah-langkah yang diperlukan dalam merumuskan rencana strategis sekolah adalah sebagai berikut:

    1. Diperlukan riset internal dan eksternal, yang mencakup delapan bidang dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP) yaitu standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar penilaian, standar tenaga pendidik dan kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan. Riset dilakukan oleh Kepala Bidang/penanggungjawab/ guru-karyawan yang dianggap mempunyai kompetensi di bidang masing-masing.

    2. Dari hasil riset tersebut, maka dapat diketahui prioritas program yang akan dikerjakan setidaknya untuk lima tahun ke depan. Keputusan program mana yang akan dipilih berdasarkan kesepakatan dari tim perumus renstra, program prioritas yang dipilih akan disahkan menjadi rencana strategis (renstra). Dari renstra tersebut selanjutnya diturunkan menjadi program tahunan. Menurut Allison (2005) untuk menjamin agar rencana strategis itu dilaksanakan secara terkoordinasi dan efektif, rencana itu harus diterjemahkan ke dalam perincian, rencana strategis harus diubah menjadi rencana tahunan dan anggaran tahunan.

    Berikut contoh penyusunan Rencana Kerja Tahunan (RKT). Proses diawali dengan menetapkan visi dan misi terlebih dahulu, selanjutnya profil siswa.

    Visi:

    Pendidikan swasta yang unggul dalam mendidik siswa menjadi pribadi yang cerdas, kreatif, adaptif dan mampunyai wawasan kebangsaan, kemanusiaan serta ikut andil dalam merawat lingkungan hidup.

    Misi:

    1. Menjalankan pendidikan yang berkualitas.
    2. Mendidik siswa menjadi pribadi yang cerdas, kreatif dan adaptif.
    3. Mengembangkan pembelajaran yang kredibel dengan mendidik siswa agar mempunyai wawasan kebangsaan, kemanusiaan dan ikut andil dalam merawat lingkungan serta mampu memanfaatkan teknologi informasi dengan baik.

    Profil Siswa:

    Menjadikan siswa sebagai pribadi yang cerdas, kreatif dan adaptif serta mempunyai wawasan kebangsaan, kemanusiaan dan ikut andil dalam merawat lingkungan hidup. Untuk itu selama tiga tahun pendidikan, para siswa dididik menjadi:

    1. Pribadi yang unggul di bidang akademik dan teknologi.
    2. Pribadi yang mempunyai wawasan kebangsaan, kemanusiaan dan lingkungan hidup yang baik.

    Setelah kita menentukan profil siswa, langkah selanjutnya menentukan tujuan yang ingin dicapai untuk lima tahun ke depan. Rumusan tujuannya secara umum adalah:

    1. Terwujudnya pelayanan pendidikan yang unggul untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas.
    2. Terbentuknya komunitas pendidikan yang didukung oleh sumber daya yang profesional dan tanggap terhadap perkembangan jaman.

    Berdasarkan tujuan umum tersebut maka kita dapat merumuskan program tiap bidang yang ingin dicapai dalam lima tahun ke depan. Program renstra tiap bidang adalah sebagai berikut:

    1. Standar Kompetensi LulusanTerwujudnya profil alumni yang cerdas, kreatif , adaptif serta mempunyai wawasan kebangsaan, kemanusiaan dan ikut merawat lingkungan hidup melalui proses intra dan ekstrakurikulum serta kegiatan lainnya.
    2. Standar IsiTerlaksananya kurikulum yang mengintegrasikan mata pelajaran bidang ilmu pengetahuan
    alam, sosial, bahasa dan budaya
    dengan wawasan kebangsaan, kemanusiaan, lingkungan serta teknologi.
    3. Proses/ Pembelajaran  Terlaksananya pembelajaran secara optimal dengan memanfaatkan teknologi .
    4. Penilaian   PembelajaranTerimplementasikannya software penilaian pembelajaran secara optimal.
    5. Pendidik/Tenaga KependidikanMeningkatnya kompetensi tenaga pendidik dari sisi akademik, pedagogi, serta dalam publikasi karya ilmiah.
    6. Pengelolaan/ Manajemen1. Terlaksananya manajemen yang berbasis pada kepemimpinan yang kuat serta berpegang teguh pada struktur organisasi yang ada.
    2. Terlaksananya analisis dan perumusan job description yang baru sehingga akan menjadi lebih jelas antara tugas, tanggungjawab dan wewenang.
    3. Peninjauan ulang pemberian penghargaan balas jasa pegawai.
    7. Sarana dan PrasaranaTerwujudnya seluruh ruang kelas berbasis IT.
    8. Sumber dan Penggunaan DanaSemakin transparannya pengelolaan keuangan untuk mendukung operasional sekolah secara efisien dan efektif.
    Tabel 1. Program Rencana Strategis 5 tahun ke depan

    Untuk mewujudkan renstra lima tahun ke depan diperlukan Rencana Kerja Tahunan secara bertahap. Kita mulai dengan penyusunan Rencana Kerja tahun pertama:

    No.BidangProgram
    1.Standar Kompetensi Lulusan1. Melakukan pembelajaran yang kreatif dan cerdas berbasis IT.
    2. Membuat program pekan Pancasila dengan pameran tentang Pancasaila.
    3. Membuat kegiatan bakti sosial ke tempat yang terpinggirkan dan ke panti asuhan.
    4. Membuat program penghijauan di tepi laut untuk mencegah abrasi (mangrove)
    2.Standar IsiPeninjauan kembali kurikulum yang ada agar sesuai dengan metode pembelajaran berbasis teknologi.
    3.Bidang Proses PembelajaranMembuat pelatihan kepada guru tentang pembelajaran dan penilaian berbasis teknologi informasi.
    4.Bidang Penilaian Pembelajaran1. Membuat software penilaian berbasis IT.
    2. Membuat pelatihan kepada guru untuk pemanfaatan software penilaian.
    5.Bidang Tenaga Pendidik dan Kependidikan1. Menyusun dokomen pengembangan tenaga pendidik dan kependidikan.
    2. Mengadakan pelatihan penulisan karya ilmiah.
    6.Bidang Pengelolaan/ Manajemen1. Peninjauan kembali struktur organisasi yang ada.
    2. Membuat pelatihan manajemen organisasi dengan mengundang tenaga ahli dibidang manajemen.
    3. Melakukan evaluasi job desription yang ada.
    4. Melakukan evaluasi terhadap peraturan imbal jasa.
    7.Bidang Sarana PrasaranaMembuat kelas berbasis IT tahap 1 untuk seluruh kelas X
    8.Bidang Sumber dan Penggunaan DanaMembuat dokumen tata kelola keuangan yang baru dengan menyesuaikan perubahan peraturan-peraturan internal/eksternal terbaru.
    Tabel 2. Program Kerja tahun 1

    Dari program tahun pertama tersebut dapat disusun anggaran dan belanja tahunan. Program tahun pertama dibuat sebagai tahapan dalam program jangka lima tahun ke depan. Diharapkan program dapat berjalan sesuai dengan harapan dan berdasarkan hasil evaluasi maka dapat disusun program tahun kedua sebagai kelanjutan dari tahapan tersebut.

    Demikian cara penyusunan Rencana Kerja Tahunan (RKT) secara sederhana. Tulisan selanjutnya terkait bagaimana proses monitoring dan evaluasi (monev) dijalankan. Monev diperlukan untuk mendeteksi program yang telah disusun apabila terjadi hambatan dan kendala dapat segera diatasi. Semoga bermanfaat, untuk diskusi silakan dituliskan di kolom komentar. Terimakasih.

  • Cara Membuat Visi-Misi Sekolah

    Sekolah merupakan organisasi nir-laba, tujuan utama berdirinya sekolah berbeda dengan perusahan/dunia bisnis yang mencari keuntungan finansial sebanyak-banyaknya, tujuan organisasi nir-laba adalah tercapai-nya visi-misi sekolah seperti yang sudah dirumuskan para pendiri dahulu. Maka, sangat penting merumuskan visi-misi sekolah yang baik, benar dan jelas.

    Menurut Campbell dan Yeung, visi adalah keadaan masa depan yang mungkin dan diinginkan dari suatu organisasi yang mencakup tujuan tertentu. Sedangkan menurut David Fred R., dan David Forest R, 1. pernyataan visi harus menjawab pertanyaan dasar, “Kita ingin menjadi apa?“, 2. visi yang jelas memberikan landasan untuk mengembangkan pernyataan misi yang komprehensif, 3. pernyataan visi harus ditetapkan terlebih dahulu dan terutama. Berdasarkan pernyataan tersebut maka, visi harus dibuat terlebih dahulu lalu diikuti dengan merumuskan misi. Visi harus jelas dan tegas dan menggambarkan apa yang ingin dicapai sekolah dalam periode tertentu. Visi sekolah sebaiknya dirumuskan setidaknya untuk lima tahun ke depan. Apabila sekolah sudah mempunyai visi dan dianggap sudah tidak relevan lagi dikarenakan perubahan jaman dan lainnya maka dapat dilakukan peninjauan ulang. Peninjauan ulang visi dapat melibatkan pegawai, tenaga ahli dan juga stake holder lainnya.

    Setelah visi dirumuskan maka tahap selanjutnya merumuskan misi. Menurut Drucker pernyataan misi adalah landasan untuk prioritas, strategi, rencana, dan penugasan kerja sedangkan menurut Campbell dan Yeung, misi lebih terkait dengan perilaku dan saat ini. Misi diharapkan lebih konkret dari pada visi, misi yang ditulis menggambarkan apa yang akan dikerjakan setidaknya lima tahun ke depan. Nantinya misi yang dirumuskan akan diturunkan dalam rencana kerja tahunan.

    Contoh visi dan misi:

    Visi:

    Pendidikan swasta yang unggul dalam mendidik siswa menjadi pemimpin yang cerdas dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman.

    Misi:

    1. Menjalankan pendidikan berkualitas
    2. Mendidik siswa menjadi pemimpin yang cakap
    3. Mengembangkan komunitas pendidikan yang kredibel dengan memanfaatkan teknologi informasi

    Dalam poin visi di atas terdapat tiga poin utama yaitu pendidikan swasta yang unggul, mendidik siswa menjadi pemimpin yang cerdas dan menyesuaikan perkembangan jaman. Dari ketiga poin visi tersebut kita dapat merumuskan tiga misi yang selanjutnya dapat di diturunkan menjadi program tahunan.

    Demikian uraian singkat cara membuat visi-misi sekolah, semoga bermanfaat.

  • Penyusunan Perencanaan Strategis Dan Pelaksanaan Rencana Strategis Sekolah

    I. Pendahuluan

    Perencanaan strategis dibutuhkan agar arah tindakan dan keputusan yang dibuat sesuai dengan yang diharapkan. Perencanaan strategis adalah sebagai upaya yang didisiplinkan untuk membuat keputusan dan tindakan penting yang membentuk dan memandu bagaimana menjadi organisasi, apa yang dikerjakan organisasi, dan mengapa organisasi mengerjakan hal seperti itu (Olsen & Eadie, 1982 dalam Bryson, 2016). Keterlibatan pegawai sangat penting terutama pegawai dalam jabatan tertentu dalam menyusun perencanaan strategis, dengan melibatkan sebanyak mungkin manajer dan pegawai maka akan mengarah pada pemahaman dan komitmen pegawai menjadi lebih baik (Fred and David, 2017).

    II. Landasan Teori

    Tujuh tahapan proses perencanaan strategis menurut Allison (2005):

    1. Bersiap-siap.
    2. Mempertegas misi dan visi.
    3. Menilai lingkungan.
    4. Menyepakati prioritas-prioritas.
    5. Penulisan rencana strategis.
    6. Melaksanakan rencana strategis.
    7. Memantau dan mengevaluasi.
    Proses Perencanaan Bisnis (Michael Alisson & Jude Kaye)

    Dari ketujuh tahapan tersebut dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok pertama  bertujuan untuk mengetahui prosedur/mekanisme penyusunan perencanaan strategis dimulai dari dengan bersiap-siap, mempertegas misi dan visi, menilai lingkungan, menyepakati prioritas-prioritas dan penulisan rencana strategis. Sedangkan kelompok kedua bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan renstra yang telah dibuat. Dua tahapan kelompok dua tersebut adalah melaksanakan rencana strategis dan memantau serta mengevaluasinya.

    Diperlukan komitmen organisasi untuk melaksanakan renstra yang telah dibuat. Komitmen organisasi merupakan tingkat kepercayaan dan penerimaan tenaga kerja terhadap tujuan organisasi dan mempunyai keinginan untuk tetap ada di dalam organisasi tersebut (Mathis & Jackson, 2001 dalam Busro, 2018). Ketika karyawan tidak mempunyai komitmen terhadap organisasi, maka mereka akan bekerja secara acuh tak acuh, dan tidak akan mampu menghasilkan kinerja yang tinggi yang pada akhirnya mereka akan meninggalkan organisasi, baik karena kesadaran sendiri maupun diberhentikan oleh perusahaan. Komunikasi antar pribadi yang baik antara pimpinan dan pegawai dibutuhkan dalam pelaksanaan renstra. Komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) merupakan komunikasi yang berlangsung dalam situasi tatap muka antara dua orang atau lebih, baik secara terorganisasi maupun pada kerumunan orang (Busro, 2018). Faktor yang membuat pegawai mempunyai komitmen kepada organisasi salah satunya menurut Khan (2010) dalam Busro (2018) adalah bahwa komitmen organisasi yang tinggi karena adanya tingkat komunikasi antar pribadi yang tinggi dalam organisasi. Juga diperlukan kompetensi dari para PIC dalam melaksanakan program yang telah dibuat. Seseorang dikatakan kompeten bilamana mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawab pekerjaan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan persyaratan yang telah ditetapkan (Susilo, 2018). Sedangkan menurut Palan (2007), kompetensi adalah mengenai orang seperti apa dan apa yang dapat mereka lakukan, bukan apa yang mungkin mereka lakukan. Pengawasan (controlling) penting dilakukan oleh pimpinan untuk mengetahui arah pelaksanaan dari sebuah perencanaan yang telah ditetapkan dan juga untuk memastikan pencapaian program yang telah direncanakan. Menurut Natalia (2011), pengawasan dilakukan saat kegiatan berlangsung, sehingga segala tindakan yang keluar dari rel yang telah ditentukan dapat segera dikembalikan kepada jalurnya, sehingga penyimpangan yang terjadi tidak berjalan terlalu jauh.

    III. Pembahasan

    Kelompok Pertama: Lima Tahapan Penyusunan Perencanaan Strategis

    Pembahasan diurutkan dimulai dari tahap bersiap-siap. Pada tahap ini diawali dengan pembentukan tim perumus perencanaan strategis. Tim perumus sebaiknya melibatkan para calon pelaksana dan penanggung jawab program (PIC). Melibatkan mereka dalam proses penyusunan perencanaan strategis sejak dini akan memberi dampak bagi pemahaman yang mendalam tentang bidang atau program yang menjadi tanggungjawab mereka kelak ketika program renstra tersebut dilaksanakan. Tim perumus sebaiknya lengkap sesuai bidang yang ingin dicapai dalam renstra, tim perumus dilengkapi dengan person yang kompeten sesuai dengan delapan bidang Standar Nasional Pendidikan (SNP). Delapan standar nasional pendidikan tersebut meliputi standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar penilaian, standar tenaga pendidik dan kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan.

    Setelah langkah bersiap-siap maka langkah selanjutnya adalah mempertegas visi dan misi. Pada tahapan ini tim perumus meninjau ulang visi misi sekolah yang sudah ada, perlu melakukan kajian dokumen-dokumen yang ada, nilai-nilai lembaga terbaru dan juga perlu pendapat dari para ahli serta perlunya forcasting kebutuhan setidaknya lima tahun ke depan. Setelah visi dan misi selesai dirumuskan maka langkah berikutnya adalah menilai lingkungan. Penilaian internal dan eksternal diperlukan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman yang dihadapi. Penilaian internal dan eksternal semestinya dilakukan sesuai bidang yang akan dijadikan program. Penilaian lingkungan hendaknya melibatkan para pemangku kepentingan dalam yaitu para Kepala Bagian dan para karyawan yang kompeten di bidangnya dan para pemangku kepentingan luar seperti orang tua siswa, alumni dan lainnya, sehingga penilaian lingkungan yang dilakukan dapat lebih mendalam dan komprhensif.

    Selanjutnya tahap keempat yaitu menyepakati prioritas-prioritas. Dari hasil penilaian lingkungan tersebut dapat dirumuskan prioritas-prioritas program. Program dapat berasal dari para individu dalam tim perumus, selanjutnya disepakati bersama untuk menjadi program prioritas. Namun dimungkinkan muncul ide-ide baru di luar yang dihasilkan tim penilai lingkungan. Asalkan program dirasa bagus dan disepakati bersama maka program tersebut dapat menjadi prioritas program. Selanjutnya tahap ke lima yaitu menyusun rencana strategis, gagasan yang disepakati dituliskan oleh sekretaris tim menjadi program. Setelah ditulis maka akan menjadi draf rencana strategis, sebelum disahkan sebaiknya dilakukan uji publik terlebih dahulu. Uji publik dapat mengundang ahli pendidikan yang kompeten, Pengurus Yayasan, perwakilan pegawai dan alumni. Setelah itu rencana strategis dapat disahkan menjadi dokumen resmi.

    Kelompok Kedua: Dua Tahapan Melaksanakan dan Evaluasi

    Menurut Allison, langkah selanjutnya setelah penulisan rencana strategis adalah melaksanakan rencana strategis, langkah ini merupakan langkah keenam. Untuk menghubungkan antara pemikiran strategis yang tercantum dalam rencana strategis dengan pekerjaan sehari-hari maka dibutuhkan rencana operasinal (renop) dan anggaran. Setelah renop dan anggaran selesai dibuat maka diperlukan para Personal In Charge (PIC) atau orang yang bertanggungjawab atas pelaksanaan renop tersebut. Agar renop dapat dilaksanakan dengan baik harus didukung oleh PIC yang mempunyai kompetensi dan komitmen yang tinggi. Renop dibuat setiap tahun berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan program tahun sebelumnya. Berangkat dari laporan hasil monev tersebut maka dirumuskan program untuk tahun kedua dan begitu seterusnya. Tahap terakhir dalam penyusunan perencanaan strategis menurut Allison adalah memantau dan mengevaluasi, tahap ini penting dilakukan untuk memantau pelaksanaan rencana strategis yang telah dibuat. Monitoring dan evaluasi diperlukan agar pelaksanaan program dapat berjalan dan tidak keluar dari rel yang telah ditentukan, sehingga ketika terjadi hambatan dan penyimpangan dapat segera diatasi dan dikembalikan kepada jalurnya. Idealnya setiap tahun dilakukan tiga kali monev, pertama di awal semester untuk memonitor kendala-kendala yang mungkin muncul sebagai penghambat pelaksanaan program-program yang telah disusun, kedua di akhir semester satu dilakukan pada bulan Januari-Februari untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan program selama satu semester dan ketiga atau monev akhir dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan pada bulan April. Monitoring dan evaluasi dilakukan secara terorganisir dengan siklus tiga kali dalam setahun dan hal ini sesuai dengan tahapan Allison (2005).

    IV. Penutup

    Perlu diperhatikan dalam menyusun perencanaan strategis adalah:

    1. Perlu memilih dan memberi pembekalan khusus bagi para PIC dengan baik, agar mampu melaksanakan program yang telah dirumuskan karena berdasarkan pengalaman penulis banyak PIC yang kurang kompeten dalam bidangnya.
    2. Perlu adanya komitmen dari seluruh pemangku kepentingan dalam melaksanakan program.
    3. Perlu adanya kontroling secara berkala dari pimpinan di atasanya.
    4. Bila program tidak berjalan baik dan disinyalir disebabkan karena PIC yang tidak kompeten maka segera diganti dengan person baru yang dianggap lebih mampu.
    5. Perlu mengevaluasi perubahan lingkungan yang tidak terduga sehingga mempengaruhi renstra yang telah dibuat misalnya diakibatkan karena pandemi Covid-19, renstra yang telah dibuat kemungkinan sudah tidak sama lagi pada saat awal penyusunan perencanaan strategis.